Seorang pejabat perencana itu ibarat arsitek kebijakan—dia merancang arah, prioritas, dan langkah pembangunan. Nah, supaya perannya benar-benar bermanfaat untuk umat Islam dan masyarakat luas, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pegangan:
1. Luruskan niat
Niat utama: mengabdi kepada Allah ﷻ dan memberikan maslahat untuk manusia.
Ingat sabda Rasulullah ﷺ:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad).
Kalau niatnya lurus, setiap rencana bisa bernilai ibadah.
2. Paham kebutuhan umat
Tidak hanya berpikir angka atau target ekonomi, tapi juga memperhatikan kebutuhan umat: pendidikan, masjid, pesantren, ekonomi syariah, kesehatan, lingkungan.
Coba lihat dari kacamata masyarakat bawah: apa kesulitan mereka, dan bagaimana perencanaan bisa menjadi solusi.
3. Gunakan prinsip syariah dalam perencanaan
Pastikan program yang disusun tidak bertentangan dengan Islam (misalnya: tidak mendukung riba, maksiat, atau ketidakadilan).
Upayakan ada ruang untuk ibadah dan ukhuwah: pembangunan masjid di kawasan baru, fasilitas pendidikan Islam, dan ruang dakwah.
4. Adil dan transparan
Islam menekankan amanah dan keadilan. Seorang perencana harus menjaga agar anggaran, data, dan kebijakan tidak diputarbalikkan untuk kepentingan segelintir orang.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58).
5. Berpikir jangka panjang (visioner)
Umat Islam butuh perencanaan strategis, bukan hanya solusi instan.
Contoh: merancang kota yang ramah ibadah, sistem ekonomi yang berkelanjutan, atau pengelolaan wakaf produktif.
6. Konsultasi dan musyawarah
Jangan merasa paling tahu. Libatkan ulama, akademisi, dan masyarakat.
“… dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali Imran: 159).
No comments:
Post a Comment