1. Konsep Utama: Natural Rate of Unemployment
- Definisi: Tingkat pengangguran rata-rata jangka panjang, yang menjadi
“baseline” ekonomi.
- Dalam resesi, tingkat pengangguran
aktual > natural rate.
- Dalam boom ekonomi, tingkat
pengangguran aktual < natural rate.
📌 Contoh Indonesia:
- Saat pandemi COVID-19 (2020), pengangguran
melonjak ke 7,07% (BPS), lebih tinggi dari natural rate Indonesia yang
biasanya 4–5%.
- Saat pemulihan ekonomi 2022–2023, angka
turun kembali mendekati natural rate.
2. Model Sederhana
Pasar Tenaga Kerja
- s (separation rate): persentase pekerja yang kehilangan
pekerjaan tiap periode.
- f (finding rate): persentase penganggur yang menemukan
kerja tiap periode.
- Rumus natural rate:
UL=ss+f\frac{U}{L} =
\frac{s}{s+f}
📌 Contoh sederhana:
- Jika tiap bulan 1% pekerja kehilangan
pekerjaan (s = 0,01) dan 19% penganggur mendapat kerja (f = 0,19), maka
natural rate = 5%.
3. Mengapa Ada
Pengangguran?
- Frictional unemployment (karena pencarian kerja)
- Tenaga kerja butuh waktu untuk mencari
pekerjaan yang sesuai.
- Dipengaruhi oleh perbedaan skill, lokasi,
dan informasi pasar kerja.
📌 Contoh Indonesia:
Lulusan baru sarjana teknik mungkin perlu waktu 6–12 bulan untuk dapat kerja
sesuai bidang, meski ada banyak lowongan.
- Structural unemployment (karena rigiditas upah)
- Terjadi bila upah riil > upah
ekuilibrium, sehingga permintaan tenaga kerja lebih kecil daripada
penawaran.
- Penyebab: upah minimum, serikat
pekerja, efisiensi wage.
📌 Contoh Indonesia:
- Kenaikan UMP/UMK di beberapa daerah bisa
membuat UMKM enggan merekrut banyak tenaga kerja.
- Industri padat karya (tekstil, sepatu)
kadang memindahkan pabrik ke daerah dengan UMP lebih rendah.
4. Durasi
Pengangguran
- Sebagian besar pengangguran jangka pendek.
- Tapi sebagian kecil pengangguran jangka
panjang menyumbang sebagian besar total waktu menganggur.
📌 Contoh Indonesia:
BPS mencatat penganggur lama (lebih dari 1 tahun) biasanya ada di sektor
informal atau mereka yang terkena mismatch keterampilan (misalnya
lulusan pertanian tapi lowongan dominan di IT).
5. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Natural Rate
- Kebijakan upah minimum (Indonesia punya UMP/UMK tiap provinsi/kabupaten).
- Serikat buruh (KSPI, FSPMI) menekan agar upah lebih
tinggi.
- Perubahan sektor (dari pertanian → industri → jasa →
digital).
- Demografi (bonus demografi Indonesia 2030-an:
banyak tenaga kerja muda yang lebih mobile).
6. Implikasi
Kebijakan
- Untuk menurunkan pengangguran jangka
panjang, pemerintah bisa:
📌 Contoh kebijakan Indonesia:
- Kartu Prakerja (meningkatkan skill → memperbesar peluang
dapat kerja).
- Omnibus Law Cipta Kerja (menarik investasi → membuka lapangan
kerja baru).
- UU Hubungan Industrial (mencoba menyeimbangkan hak buruh dan
fleksibilitas perusahaan).
✨ Ringkasan untuk perencana pembangunan
nasional:
Pengangguran tidak bisa dihilangkan total karena ada frictional dan structural
unemployment. Fokus kebijakan bukan hanya membuka lapangan kerja, tapi juga
meningkatkan kecepatan pencocokan tenaga kerja dengan pekerjaan serta mengurangi
rigiditas pasar tenaga kerja.
Keterhubungan langsung
dengan kebijakan pembangunan Indonesia saat ini.
🔎 1. Natural Rate of Unemployment & Kondisi
Indonesia
- Natural rate adalah angka pengangguran yang tetap ada
meskipun ekonomi berjalan “normal”.
- Indonesia biasanya punya natural rate
4–5%.
- BPS 2023 mencatat pengangguran terbuka di
kisaran 5,3%, artinya kita relatif mendekati angka natural rate.
➡ Makna untuk kebijakan:
- Target pembangunan bukan mengejar “0%
pengangguran”, tapi menjaga agar angka pengangguran tidak jauh di atas
natural rate.
- Pemerintah perlu fokus ke penyerapan
tenaga kerja baru (karena setiap tahun ada ±2,5 juta angkatan kerja
baru).
🔎 2. Frictional Unemployment di Indonesia
- Disebabkan karena proses pencarian
kerja: skill tidak sesuai, informasi terbatas, lokasi berbeda.
- Indonesia sedang mengalami ini karena:
- Banyak lulusan perguruan tinggi menumpuk
di kota besar.
- Informasi lowongan tidak merata di
desa/kabupaten.
- Ada mismatch: misalnya, tenaga
kerja banyak di sektor sosial-humaniora, tapi permintaan tinggi di sektor
digital dan teknik.
➡ Kebijakan terkait:
- Kartu Prakerja → meningkatkan keterampilan sesuai
kebutuhan industri (digital marketing, coding, otomasi, dll.).
- Sistem Informasi Ketenagakerjaan
(Sisnaker) → digitalisasi
job matching.
- Program pembangunan Ibu Kota Nusantara
(IKN) → membuka peluang
kerja baru dan memindahkan konsentrasi ekonomi dari Jawa ke Kalimantan.
🔎 3. Structural Unemployment di Indonesia
- Terjadi karena rigiditas upah atau
perubahan struktur ekonomi.
- Faktor penyebab di Indonesia:
- UMP/UMK yang tinggi di beberapa daerah membuat industri padat karya pindah
ke daerah lain atau ke luar negeri.
- Serikat buruh mendorong kenaikan upah, tapi kadang
tidak sejalan dengan produktivitas.
- Otomatisasi & digitalisasi mengurangi kebutuhan tenaga kerja rendah
skill (misalnya kasir diganti self-checkout, atau pabrik garmen yang
pakai mesin).
➡ Kebijakan terkait:
- Omnibus Law Cipta Kerja: memberi fleksibilitas pada perusahaan
dalam perekrutan & PHK → diharapkan menekan rigiditas.
- Insentif investasi (Tax Holiday, OSS,
Kawasan Ekonomi Khusus/KEK):
menarik industri baru → buka lapangan kerja.
- Transformasi ekonomi (RPJMN 2020–2024
& Visi Indonesia Emas 2045): dorong ekonomi berbasis teknologi dan industri hijau → tapi ini
menuntut reskilling tenaga kerja.
🔎 4. Perubahan Sektoral (Sectoral Shifts)
- Indonesia sedang mengalami pergeseran
besar:
- Dari pertanian → ke industri
manufaktur (70–80an).
- Sekarang dari manufaktur → ke jasa
dan digital economy (GoJek, Tokopedia, fintech, logistik).
- Pergeseran ini menciptakan pengangguran
sementara, karena tenaga kerja butuh waktu untuk pindah sektor.
➡ Kebijakan terkait:
- Program hilirisasi nikel dan minerba: membuka lapangan kerja baru di industri
pengolahan.
- Pengembangan ekonomi digital: target 40 juta UMKM masuk ekosistem
digital 2030.
- Pembangunan infrastruktur (pelabuhan,
jalan tol, kereta cepat, digital broadband): memudahkan mobilitas tenaga kerja &
barang → mempercepat pencocokan kerja.
🔎 5. Durasi Pengangguran
- Data menunjukkan sebagian besar
pengangguran Indonesia adalah lulusan SMA/SMK dan perguruan tinggi.
- Banyak yang menganggur lama karena skill
mismatch.
➡ Kebijakan terkait:
- Revitalisasi pendidikan vokasi & link
and match industri → SMK
& politeknik diarahkan ke kebutuhan sektor riil (contoh: pariwisata di
Bali, tambang di Sulawesi, agribisnis di Sumatera).
- BUMN dan proyek strategis nasional (PSN) → jadi penampung tenaga kerja besar.
- Insentif bagi startup teknologi → ciptakan lapangan kerja baru, terutama
bagi generasi muda.
🔎 6. Perencana Pembangunan: Implikasi
Sebagai seorang perencana
pembangunan nasional, poin pentingnya:
- Pengangguran tidak bisa dihilangkan total → fokus pada mengurangi structural
& long-term unemployment.
- Setiap kebijakan pembangunan (IKN,
hilirisasi, digitalisasi, transisi energi hijau) harus disertai dengan:
- Program reskilling & upskilling.
- Sistem informasi tenaga kerja yang
efisien.
- Kebijakan upah yang seimbang antara
kesejahteraan buruh dan daya saing industri.
📌 Contoh integrasi kebijakan:
- IKN → pembangunan fisik + pusat pendidikan vokasi + insentif industri
→ serap tenaga kerja lokal Kalimantan.
- Hilirisasi nikel → dorong industri smelter + sekolah
vokasi tambang/metalurgi → kurangi pengangguran di Sulawesi/Maluku.
- Green Economy & Energi Terbarukan → program PLTS, PLTB, kendaraan listrik →
tapi juga perlu reskilling pekerja minyak & batu bara.
👉 Jadi, kalau dikaitkan ke arah pembangunan
nasional: tantangan kita adalah mengelola transisi struktural ekonomi sambil
menjaga pasar tenaga kerja tetap fleksibel.
No comments:
Post a Comment