1. Inti Materi
- Hubungan inflasi & pengangguran
(Phillips Curve):
Dalam jangka pendek, ada trade-off: jika pemerintah menurunkan pengangguran (misalnya lewat stimulus ekonomi), inflasi biasanya naik. Sebaliknya, jika pemerintah menekan inflasi terlalu cepat, pengangguran bisa meningkat. - Model penyebab hubungan ini:
- Sticky-Wage Model – Upah nominal sulit turun cepat karena
kontrak tenaga kerja, sehingga jika harga-harga naik, perusahaan bisa
merekrut lebih banyak pekerja.
- Imperfect Information Model – Produsen kadang salah menafsirkan
kenaikan harga, mengira itu kenaikan harga relatif, lalu meningkatkan
produksi.
- Sticky-Price Model – Tidak semua perusahaan bisa langsung
ubah harga (karena kontrak/menu cost), sehingga permintaan lebih tinggi
mendorong output dan tenaga kerja.
- Dalam jangka panjang: Hubungan trade-off ini hilang. Ekonomi
akan kembali ke natural rate of unemployment (tingkat pengangguran
alamiah), sedangkan inflasi hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter &
ekspektasi masyarakat.
2. Mengapa Penting
bagi Perencana Nasional?
Sebagai perencana
pembangunan (misalnya di Bappenas), memahami hubungan ini penting untuk:
- Merancang kebijakan makro: misalnya target inflasi (BI) dan target
pertumbuhan & pengangguran (Bappenas).
- Mengantisipasi dampak kebijakan fiskal
& moneter: Stimulus
besar bisa menurunkan pengangguran, tapi risiko inflasi meningkat.
- Menentukan prioritas pembangunan: apakah fokus pada stabilitas harga
(inflasi rendah) atau pada penciptaan lapangan kerja cepat.
3. Contoh Konkret
di Indonesia
- Era pasca-krisis 1998
- Inflasi sangat tinggi (lebih dari 70%
pada 1998) dan pengangguran melonjak.
- Pemerintah fokus stabilisasi harga dulu,
walaupun pengangguran masih tinggi → contoh cost of disinflation.
- Periode 2015–2019
- Inflasi terjaga rendah (sekitar 3%) tapi
pertumbuhan hanya 5% dan pengangguran relatif stagnan di 5%.
- Trade-off: stabilitas harga tercapai, tapi
penciptaan lapangan kerja melambat.
- Pandemi COVID-19 (2020–2021)
- Inflasi rendah (bahkan deflasi pada
beberapa bulan) karena daya beli lemah.
- Pengangguran meningkat tajam (di atas
7%).
- Ini contoh ketika permintaan turun →
tekanan inflasi hilang tapi lapangan kerja menyusut.
4. Implikasi
Kebijakan
- Jangka pendek: Pemerintah bisa gunakan stimulus fiskal
(subsidi, belanja infrastruktur) atau kebijakan moneter longgar untuk
kurangi pengangguran → tapi harus hati-hati agar tidak menimbulkan inflasi
tinggi.
- Jangka panjang: Fokus pada reformasi struktural
(pendidikan, efisiensi birokrasi, infrastruktur) agar natural rate of
unemployment turun tanpa menimbulkan inflasi.
- Sacrifice Ratio: Jika Indonesia ingin menurunkan inflasi
1% (misalnya dari 5% ke 4%), biasanya harus rela kehilangan 5% output GDP
dalam setahun (estimasi global). Bagi perencana, ini penting untuk
mengukur “biaya” kebijakan stabilisasi.
Konsep
teori (Phillips Curve & AS-AD)
dengan kebijakan pembangunan Indonesia saat ini
1. Keterkaitan
AS-AD dan Phillips Curve
- AS-AD (Aggregate Supply – Aggregate
Demand):
• Jika pemerintah memberi stimulus fiskal (misalnya proyek IKN, subsidi pangan, bansos), maka kurva AD bergeser ke kanan → output naik, pengangguran turun, tapi harga (inflasi) juga naik.
• Dalam jangka panjang, AS (supply side) menyesuaikan. Output kembali ke tingkat naturalnya, tapi harga tetap lebih tinggi. - Phillips Curve:
• Hubungan di AS-AD tadi tercermin di Phillips Curve: ketika output naik di atas natural rate → pengangguran turun, inflasi naik.
• Tapi dalam jangka panjang, inflasi hanya tergantung pada ekspektasi masyarakat dan kebijakan moneter, bukan trade-off dengan pengangguran.
2. Kebijakan
Pembangunan Indonesia Saat Ini
Mari kita lihat
kebijakan nyata Indonesia 2020–2025:
a. IKN (Ibu Kota
Nusantara) & Infrastruktur
- Pemerintah mendorong investasi besar di
IKN dan infrastruktur konektivitas (jalan tol, pelabuhan, bandara).
- Efek jangka pendek: permintaan tenaga
kerja konstruksi naik → pengangguran turun → risiko inflasi sektor bahan
bangunan meningkat.
- Contoh: harga semen & baja cenderung
naik ketika proyek infrastruktur digenjot.
b. Ketahanan Pangan
- Inflasi pangan sering jadi masalah utama
(cabai, beras, daging).
- Pemerintah menggunakan subsidi pupuk,
bantuan beras, operasi pasar Bulog.
- Tujuannya menjaga stabilitas harga
sekaligus melindungi daya beli masyarakat miskin.
- Trade-off: subsidi besar mengurangi ruang
fiskal untuk belanja pembangunan lain.
c. Transisi Energi
& Subsidi BBM
- Subsidi BBM menjaga inflasi agar tetap
rendah (inflasi 2023 hanya 2,6%).
- Tapi ini menimbulkan risiko jangka
panjang: beban APBN tinggi, defisit fiskal meningkat.
- Jika subsidi dikurangi → inflasi bisa
melonjak sementara (cost-push inflation), meski dalam jangka panjang
fiskal lebih sehat.
d. Pengendalian
Inflasi oleh BI
- Bank Indonesia menetapkan target
inflasi 2,5 ±1%.
- BI menaikkan/menurunkan suku bunga untuk
mengendalikan permintaan.
- Kenaikan suku bunga → inflasi turun tapi
investasi & lapangan kerja melambat.
- Ini jelas contoh trade-off ala Phillips
Curve.
3. Implikasi Bagi
Perencana Nasional
- Kebijakan fiskal harus hati-hati:
Jika pemerintah terlalu ekspansif (banyak proyek + subsidi), pengangguran turun cepat, tapi risiko inflasi jangka pendek naik. - Perlu koordinasi fiskal-moneter:
Contoh: saat BI menahan suku bunga tinggi untuk jaga inflasi, Bappenas harus sinkron dalam RKP agar program pembangunan tidak menciptakan “overheating economy.” - Fokus pada supply side reform:
- Produktivitas tenaga kerja (pendidikan,
skill, digitalisasi).
- Efisiensi logistik & infrastruktur.
- Hilirisasi industri (nikel, EV battery).
Semua ini menurunkan natural rate of unemployment → sehingga ekonomi bisa tumbuh tanpa menimbulkan inflasi tinggi.
4. Contoh Terkini
- 2022: Harga energi & pangan global melonjak akibat perang Ukraina.
Indonesia kena “cost-push inflation” → inflasi 5,5% meski pengangguran
belum turun banyak.
- 2023–2024: Inflasi terkendali (sekitar 3%), tapi
pertumbuhan masih 5% dan pengangguran 5,3%. Artinya, trade-off agak
“longgar” karena supply-side masih lemah (produktivitas rendah, distribusi
pangan kurang efisien).
Dalam jangka pendek, kebijakan pembangunan memang menghadirkan trade-off antara pengangguran dan inflasi. Tapi dalam jangka panjang, yang paling penting adalah menurunkan natural rate of unemployment lewat reformasi struktural (pendidikan, infrastruktur, hilirisasi, digitalisasi). Dengan begitu, Indonesia bisa tumbuh tanpa harus memilih antara inflasi rendah atau pengangguran rendah.
No comments:
Post a Comment